Kritik Dan Tema Sosial Dalam Musik Pop
(Analisis Kritikal terhadap Lagu The Beatles: Blackbird dan Revolution)

Brenda Gracia Susanto & Rudi Sukandar
STIKOM LSPR
rudi.s@lspr.edu

ABSTRACT

Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), kritik terhadap kebijakan pemerintah, serta reaksi terhadap fenomena sosial yang ada di masyarakat selalu bisa dijumpai di negara manapun dengan sistem pemerintahan apapun, misalnya perang yang memakan banyak nyawa, tenaga, dan biaya. Beragam tanggapan dan kekecewaan masyarakat akan hal-hal tersebut tidak jarang disampaikan kepada pemerintah melalui ekspresi keprihatinan akan situasi sosial tertentu.

Momen seperti perang Vietnam yang berlangsung pada tahun 1957 sampai 1975 memancing banyak respon masyarakat, terutama anak muda generasi ‘Flower Power’ di akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. Generasi ini menyerukan penolakannya terhadap tindakan kekerasan dan perang Vietnam. Selain perang, rasisme juga merupakan pelanggaran HAM. Di Amerika Serikat pada sekitar tahun 1930 sampai tahun 1960 an orang kulit hitam masih dianggap seperti budak dan lebih rendah derajatnya dibandingkan orang kulit putih. Banyak film dan literatur yang mengangkat tema sensitif ini, seperti misalnya Huckleberry Finn karya penulis Inggris Mark Twain yang mengangkat tema perbudakan orang kulit hitam di Missouri pada tahun 1830-an. Judul ini dirilis pada tahun 1884 di Inggris dan 1885 di Amerika Serikat. To Kill a Mockingbird karya Harper Lee yang terbit pada tahun 1960 juga mengangkat hal yang sama, menceritakan tentang seorang pengacara kulit putih yang membela seorang pria kulit hitam di Amerika Serikat tahun 1930-an. Buku ini difilmkan pertama kalinya dengan judul yang sama pada tahun 1962.

Banyak sarana yang dapat digunakan untuk menyampaikan ketidakpuasan terhadap pelanggaran HAM ini. Penggunaan musik sebagai sarana penyampaian kritik marak digunakan oleh musisi di negara barat seperti Amerika Serikat dan Inggris mulai tahun 1960-an. Musik tidak hanya dianggap sebagai bentuk hiburan, namun juga sebagai saluran untuk mengekspresikan pesan atau opini. Lagu bahkan dapat menyampaikan beragam pesan, mulai dari pesan cinta hingga pesan protes akan suatu hal.

Kebanyakan musik yang didengar oleh remaja dapat mengubah perilaku mereka, misalnya musik yang bernadakan kebebasan atau perdamaian dapat menjadi pesan positif di kalangan anak muda. Pada masa sekarang, musik digunakan untuk menyampaikan pesan tertentu, misalnya seperti gerakan pemberdayaan perempuan, kampanye melawan HIV/AIDS, bahkan kampanye anti perang Vietnam yang dilakukan oleh banyak musisi dunia pada tahun 1960-an.

Salah satu momen bersejarah terjadi pada bulan Agustus tahun 1969 di Bethel, New York ketika sekitar 400,000 orang Amerika membuktikan bahwa musik bisa mewadahi suatu hal yang dapat menggerakan masyarakat. Woodstock Music and Art Fair atau yang dikenal sampai sekarang dengan Festival Musik Woodstock menjadi ajang kaum Hippie dan kaum muda lainnya yang peduli akan masalah politik dan sosial pada saat itu untuk berkumpul bersama-sama untuk mengkampanyekan perdamaian dan menolak secara tegas pengiriman tentara Amerika ke Vietnam.

Festival yang disebut sebagai 3 Days of Peace & Music ini bermula dari pikiran kritis akan keadaan sosial pada saat itu dimana perang Vietnam masih menjadi pusat perhatian dunia dan Civil Rights Revolution yang mengambil tema kesetaraan hak perempuan dan orang kulit hitam masih menjadi topik utama. Bergabung dengan Bob Dylan dan Joan Baez sebagai pelopor musisi yang menggunakan musik sebagai alat mengkritik, The Beatles menelurkan sedikitnya tiga buah lagu yang memiliki pesan politik dan sosial.

Penelitian ini berpusat pada karya-karya The Beatles yang memiliki berlatarbelakang sejarah gerakan sosial sejarah dan bernadakan kritik terhadap kebijakan yang melanggar HAM. Penelitian dengan metode kualitatif ini meneliti mengenai lagu Blackbird dan Revolution karya The Beatles menggunakan teori framing dan retorika dengan pendekatan kritikal dan interpretif. Lirik lagu diuraikan dan dibahas untuk menegaskan bagaimana The Beatles membingkai keadaan sosial politik seperti perang dan rasisme di tahun 1960-an.

Teori framing Gamson terdiri atas delapan perangkat penelitian yaitu metaphors, catchphrases, exemplaar, visual image, depiction, roots, appeals to principles, dan consequences. Jika teori framing Gamson diaplikasikan terhadap lagu Blackbird dan Revolution, maka dapat dilihat bahwa keduanya memuat perumpamaan yang mengacu kepada objek tertentu (blackbird untuk wanita kulit bewarna, carrying picture of chairman Mao yang mengacu kepada pendukung komunisme), pembeda bingkai yang membedakan kontras antara The Beatles yang cinta damai dan menuntut persamaan hak kulit bewarna dengan musisi di zamannya yang menyetujui perang dan menolak persamaan warna kulit.

Selain itu, jika dikaitkan dengan teori framing Gamson, apa yang ditulis oleh Lennon dan McCartney sebagai pengarang lagu benar-benar memiliki bukti sejarah dan landasan hukum yang kuat. Menggenapi apa yang dimaksudkan Gamson dengan consequences atau akibat dari lagu tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua lagu tersebut dapat memengaruhi khalayak untuk berubah sikap.

Secara keseluruhan, dengan aplikasi teori framing Gamson didapatkan pengertian bahwa The Beatles sangat menunjukkan pandangan mereka terhadap masalah Perang Vietnam dan rasisme warga Afrika-Amerika. Keberpihakan mereka ini didukung kuat dengan latar belakang dan beberapa pernyataan sebelumnya yang menunjukan bahwa mereka sungguh-sungguh menginginkan perdamaian dan mendukung persamaan hak warga kulit berwarna. Bahkan di suatu kesempatan, McCartney mengatakan bahwa musisi kulit berwarna seperti Chuck Berry dan Nina Simone adalah inspirasi mereka dalam bermusik.

Hal lain yang dapat diungkap melalui teori framing Gamson adalah bagaimana kedua lagu tersebut dapat dicerna oleh pendengar dengan baik dikarenakan menggunakan lirik yang menuangkan gambaran secara visual. Kata-kata seperti “blackbird singing in the dead of night” menggambarkan keadaan yang suram dan sunyi dimana seekor burung berwarna hitam (mengacu kepada warga Afrika-Amerika yang tertindas masa itu) sedang bersenandung menyerukan penderitaannya. Hal seperti penggambaran visual, metafor, dan perumpamaan membuat pesan yang ingin disampaikan menjadi mudah diterima.

Untuk memperdalam penelitian, maka kedua lagu dikaji menggunakan teori retorika Aristoteles yang menegaskan bahwa pembicara atau seorang tokoh memiliki tiga perangkat utama yang dapat digunakan untuk melakukan persuasi, artistic proof yang disebutkan oleh Aristoteles, yaitu ethos (kredibilitas), logos (argumen dan bukti), dan pathos (pendekatan emosi).

Dari hasil penelitian, faktor ethos dalam kedua lagu ialah latar belakang Lennon dan McCartney sebagai penulis lagu yang memiliki pendidikan, penampilan menarik, dan popularitas yang cenderung bernada positif sehingga dapat dipercaya khalayak. Adalah penting bagi pembicara untuk memiliki popularitas positif dan citra yang baik di mata publik. Citra yang baik akan mengakibatkan mudahnya kata-kata pembicara dipercayai oleh pendengar.

Dari sis logos, apa yang ditulis dalam lirik lagu diambil dari kejadian nyata yang memang sedang terjadi pada masa lagu tersebut dirilis. Hal ini tentu membuat pendengar lebih percaya dan merasa memiliki keterkaitan. Lirik seperti “carrying picture of Chairman Mao” yang berarti menganut paham komunisme memang sesuai dengan latar belakang sejarah di masa itu saat Amerika mendukung Vietnam Selatan untuk melawan Vietnam Utara yang beraliran komunis (sama seperti pendukungnya, Cina) untuk meluaskan daerah kekuasaan mereka. Bukti sejarah yang kuat akan membuat lagu dan pesan terasa jujur.

Untuk aspek emosi (pathos), Lennon dan McCartney menggunakan kata-kata yang menggugah emosi para pendengar lagu-lagu tersebut. Lirik seperti “you were only waiting for this moment to arise” bernadakan penghiburan dimana McCartney menuangkan emosinya berupa kesedihan mendalam saat melihat ketidakadilan terhadap warga kulit berwarna. Menuangkan emosi ke dalam lagu merupakan hal yang penting sebab dipercaya dapat memainkan mendukung argumentasi yang mereka sampaikan dalam lirik lagu mereka. Hal ini tentu menguntungkan bagi Lennon dan McCartney, sebab mereka bisa memikat pendengar tidak hanya secara ideologi, namun juga secara emosi.

Dari sudut pandang kritikal, apa yang dilakukan The Beatles sebagai sebuah grup musik adalah hal yang tepat. Mereka menggunakan kepopuleran dan publisitas untuk mengkampanyekan suatu hal positif. Jika dilihat dari sudut pandang hukum dan HAM, Lennon dan McCartney melakukan hal yang ideal dan memihak kepada hak warga negara yang telah secara sistematis dimarjinalisasi, terutama yang berkenaan dengan hak-hak warga kulit berwarna di Amerika Serikat.

Melalui analisis framing dan retorika tersebut didapat kesimpulan bahwa The Beatles membingkai permasalahan sosial pada masanya dengan menonjolkan sisi simpati mereka akan permasalahan rasial dalam Gerakan Hak Sipil, dan keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam. Selain itu, menggunakan pemilihan kata yang tepat dan diungkapkan dalam metafor atau ungkapan sehingga mudah dimengerti dan akrab dalam kehidupan sehari-hari juga merupakan keunggulan penulis lagu.

Dari perspektif retorika, The Beatles juga menyampaikan pesan yang dituangkannya ke dalam lirik lagu Blackbird dan Revolution sebagai upaya partisipasi mereka dalam membangun persepsi publik akan ketidakadilan yang ada di dunia, terutama Amerika Serikat. Sebagai band pendukung gerakan Hak Sipil, keterlibatan mereka dalam musik dunia juga seringkali dikaitkan dengan aktivitas politiknya. Lagu yang bermuatan kritik sosial seperti Blackbird dan Revolution pun diingat masyarakat lebih dari sekedar lagu pop biasa.

Jika dikaitkan dengan critical analysis dengan menggunakan pendekatan interpretif, maka The Beatles melakukan tindakan yang idealis dengan melihat fenomena sosial yang ada seperti misalnya demonstrasi anti perang dan segregasi berdasarkan warna kulit. The Beatles memilih waktu yang tepat untuk merilis lagu yaitu pada tahun 1968, dimana masalah rasial terus terjadi, dan Perang Vietnam sedang berlangsung.

Melihat maraknya penggunaan musik sebagai media untuk melakukan kritik, alangkah baiknya jika di kemudian hari dapat dilakukan penelitian mendalam terhadap karya musisi lain seperti Iwan Fals yang juga sering menyerukan kritik terhadap pemerintah ataupun karya seni lain seperti film yang bermuatan kritik. Dari penelitian ini dan penelitian lainnya yang serupa, dapat dikatakan bahwa karya seni juga sangat berpengaruh kuat untuk menjadi sarana kritik. Keefektifan dari karya tersebut tergantung pada pribadi pembicara dan keterampilannya memuat emosi ke dalam karya seni.