Deteksi Dini dan Individual Education Plan

LSCAA kembali menyelenggarakan Teachers Training dengan mengundang guru-guru se-Jabodetabek untuk mendapatkan ilmu mengenai anak berkebutuhan khusus. Kali initeachers training diisi oleh Ibu Nefrijanti Sutikno dengan mengangkat tema “Deteksi Dini & Individual Education Plan”. Acara yang diselenggarakan pada Jumat, 6 November 2015 ini dibuka oleh ibu Chrisdina Wempi selaku Head of LSBA. Dan juga Ivan salah satu siswa LSBA yang turut menyanyikan sebuah lagu Meraih Bintang.

Setelah acara pembuka Ibu Nefrijanti Sutikno pun mulai memberikan seminar kepada guru-guru SDN di Auditorium Prof. Dr. Djayusman Kampus B – LSPR. Ibu Nefrijanti, menjelaskan tujuan dalam pembelajaran pada anak berkebutuhan khusus hingga lulus yaitu mereka dapat diterima dan berguna menjadi bagian masyarakat. Di dalam tujuan kurikulum 2013, dimana hasil akhir pendidikan yang harus dicapai peserta didik (keluaran) dan dirumuskan sebagai kompetensi lulusan, kandungan materi yang harus diajarkan kepada dan dipelajari oleh peserta didik (masukan/standar isi) dalam usaha membentuk kompetensi lulusan yang diinginkan, selain itu pelaksanaan pembelajaran (proses, termasuk metodologi pembelajaran sebagai bagian dari standar proses) supaya ketiga kompetensi yang diinginkan terbentuk pada diri peserta didik, dan juga penilaian kesesuaian proses dan ketercapaian tujuan pembelajaran sedini mungkin untuk memastikan bahwa masukan, proses, dan keluaran tersebut sesuai dengan rencana.

Berdasarkan Susenas Triwulan 1 Maret 2011, jumlah anak Indonesia sebanyak 82.980.000. Dari populasi tersebut 9.957.600 anak adalah anak berkebutuhan khusus dalam kategori penyandang disabilitas. Sekolah yang mempunyai siswa/i ABK harus mempersiapkan pengajaran dari segi kurikulum dan fasilitas. Anak berkebutuhan khusus mempunyai jenis hambatan yang berbeda-beda sehingga sekolah harus menyesuaikan kurikulum dan fasilitas seperti tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunawicara, dan tunalaras mendapatkan kurikulum sama dan fasilitas. Sedangkan siswa yang mempunyai hambatan kesulitan belajar khusus, lambat belajar, dan CIBI (Cerdas Istimewa dan Bakat Istimewa) mendapatkan perubahan kurikulum. Untuk siswa yang mempunyai hambatan ADHD dan gangguan komunikasi mendapatkan kurikulum sama dan fasilitas atau bisa juga mengalami perubahan kurikulum, dan untuk siswa yang mempunyai hambatan ASD dan gangguan ganda mendapatkan kurikulum dan fasilitas sama atau bisa juga perubahan kurikulum.

Jenis pendidikan untuk ABK mempunyai beberapa faktor seperti segregasi, integrasi, dan inklusif. Salahsatunya pendidikan inklusif dimana sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Sebelum menerima siswa berkebutuhan khusus, sekolah menyusun pembuatan PPI (Program Pembelajaran Individual) guna mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai siswa berkebutuhan khusus. Ada 6 langkah pembuatan PPI yaitu Pengumpulan Data, Kerjasama Ahli, Pembuatan PPI, Persetujuan Ahli dan Orang Tua, Pelaksanaan PPI, dan Evaluasi / Penilaian dan Pembenahan PPI. Untuk mendeteksi dini acuannya dapat dilihat dari “Panduan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus Bagi Pendamping (Orangtua, Keluarga, dan Masyarakat)” yang telah disiapkan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Sekolah dalam mempersiapkan untuk menerima siswa berkebutuhan khusus tidak hanya menyusun PPI tetapi juga menyusun IEP (Individual Education Plan) IEP atau PPI adalah suatu program pendidikan dalam bentuk pernyataan tertulis untuk setiap siswa ABK yang dikembangkan berdasarkan hasil pertemuan Tim Pengembang PPI. Tim PPI ini merupakan guru pendidikan khusus, guru kelas, dokter/psikolog/terapis, kepala sekolah, orangtua, siswa yang bersangkutan (apabila diperlukan), dan spesialis lain (konselor, guru music, dll).

Ibu Nefrijanti juga mengajak guru-guru SDN menyusun PDCA “Plan, Do, Check,Action”. Poin Plan yaitu menentukan target, menentukan kapan akan dicapai, dan bagaimana mencapainya. Poin Do yaitu mengerjakan secara konsisten dan kontinyu. Poin Check yaitu melakukan evaluasi secara berkala dan menemukan solusi. Dan poin Action yaitu meningkatkan dengan solusi hingga tercapai targetnya.