Parents Sibling “Bullying harus bagaimana?”

Anak berkebutuhan khusus, cukup rentan dengan bullying. Umumnya, mereka tidak dapat membela diri maupun tidak menyadari ketika mengalami bullying dari orang di sekitarnya. Pada 20 September 2014 lalu di sesi Parents Discussion Group yang secara rutin diselenggarakan oleh LSCAA, Dra Endang Retno Wardhani, Psikolog serta konsultan di lembaga pendidikan khusus serta program inklusi, berbagi tentang apa yang harus dicermati orangtua, pendamping maupun guru dalam menghadapi kasus bullying.

Menurut Ibu Endang, peran orang yang berada dalam institusi pendidikan, atau yang ada di luar institusi (seperti orangtua) juga punya peran penting untuk menata hal ini. Dampak dari bullying tidak bisa dianggap remeh. Mulai dari dampak secara psikologis, seperti perasaan tertekan, tersisih, munculnya konsep diri negatif, rasa takut, marah tapi tidak dapat diungkapkan hingga yang sifatnya lebih berat seperti munculnya depresi dan menarik diri.

Salah satu yang dapat dilakukan untuk mengatasi perilaku bullying dan dampak negatifnya adalah dengan sosialisasi. Ibu Endang menegaskan sosialisasi seharusnya diberikan pada semua pihak seperti sekolah dan orangtua. Di beberapa sekolah saat ini, guru BP (Bimbingan Penyuluhan) sudah turun ke lapangan secara langsung untuk mengidentifikasi kasus bullying.

Ibu Endang menjelaskan ada beberapa faktor penyebab bullying pada ABK seperti hambatan beradaptasi sosial, hambatan berkomunikasi, rigiditas pola pikir, pola perilaku serta hambatan pengendalian emosional pada ABK. Oleh karena itu beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah guru harus memahami apa itu bullying dan kedua guru dapat memberikan pemahaman pada siswa yang lain.