Penggunaan Komputer Tablet Sebagai Media Belajar Anak Autis

Dalam rangka memperingati Autism Awareness Day, yang jatuh pada tanggal 2 April, London School Centre for Autism Awareness (LSCAA) menggelar Autism Awareness Festival 5 pada tanggal 5 April 2013. Acara ini diisi oleh seminar yang membahas mengenai “Penggunaan Komputer Tablet Sebagai Alat Bantu Komunikasi Anak Autistik Non Verbal”.

Mrs. Hersinta, M. Si, selaku salah satu pembicara di seminar ini, berbagi mengenai pemanfaatan, pemilihan program, hingga plus dan minus dalam menggunakan komputer tablet. Saat ini, banyak sekali aplikasi edukasi dalam komputer tablet yang dapat digunakan untuk alat bantu komunikasi dan edukasi pada anak autis. Penggunaan komputer tablet ini juga makin marak karena harganya yang relatif murah.

Adanya aplikasi yang mengandung unsur audio visual yang interaktif tentunya dapat merangsang anak untuk belajar berbicara dengan mengikuti suara yang keluar. Penggunaan komputer tablet ini disarankan agar digunakan sebagai alat bantu pengajaran akademik, alat pendukung aktivitas permainan dan juga pengisi waktu luang. Namun tidak sepenuhnya digunakan dalam kegiatan sehari-hari anak.

Mr. Tri Gunadi, (OT), Ind, S.Psi, S.Ked., seorang terapis sekaligus Direktur Yayasan Medical Exercise Therapy (YAMET) menjelaskan bahwa dalam memgembangkan potensi pada anak autis banyak hal yang diperhatikan, seperti terapi komunikasi, pemberian asupan makanan yang baik, serta pengajaran keseharian yang benar.

Bukan hanya bidang medis, namun bidang komunikasi dan teknologi pun mulai menunjukan kepeduliannya terhadap autism dengan menciptakan dan mengembangkan aplikasi-aplikasi khusus yang dapat digunakan sebagai media belajar dan alat bantu komunikasi untuk anak autis.

Seminar ini menginformasikan bahwa, meskipun komputer tablet dapat memberikan manfaat sebagai alat bantu komunikasi dan edukasi yang efektif dan relatif murah, para orang tua tetap dihimbau untuk mengontrol pemakaian komputer tablet tersebut. Sangat tidak disarankan untuk menggunakannya secara terus menerus sehingga membuat anak menarik diri dari kehidupan sosialnya.

Namun yang paling utama dalam memilih penanganan yang tepat adalah mengetahui potensi dan keterbatasan anak tersebut. Begitupun dalam pemilihan aplikasi edukasi dan permainan mereka.