Peran Lingkungan Dalam Memaksimalkan Proses Belajar Pada Anak Dengan ASD

Saya ingin mengajak anda membayangkan sesuatu. Coba bayangkan kalau anda harus melakukan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tapi dilakukan di lingkungan yang panas dan tidak nyaman setiap harinya. Tidak menyenangkan bukan? Hasilnya pun mungkin akan  menjadi tidak maksimal. Hal tersebut membuktikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak lepas dari lingkungan yang ada disekitar kita. Apa yang terjadi pada lingkungan, baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kita, salah satunya adalah proses belajar. Demikian juga dengan anak-anak. Anak yang belajar di lingkungan aman dan menyenangkan tentu akan berbeda hasilnya dibandingkan anak yang harus belajar dengan situasi yang tidak menyenangkan.

IMG_1300

Menurut Djamarah (2006) belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan, artinya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. Tokoh lainnya Sardirman (2003) juga mengatakan bahwa belajar sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga, psiko-fisik untuk menuju perkembangan manusia seutuhnya yang menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Dari 2 pengertian diatas dapat dipahami bahwa belajar tidak hanya mencakup proses kognitif, tapi juga melibatkan proses mental dan ada peran lingkungan di dalamnya. Sehingga penting bagi kita pendidik atau orang tua memperhatikan bagaimana lingkungan anak ketika belajar.

IMG_4019

Lalu pertanyaan berikutnya adalah siapakah yang boleh belajar? Jaman dahulu, hanya orang-orang tertentu yang berhak untuk memperoleh pendidikan. Tapi seiring berjalannya waktu, pola pikir masyarakat pun semakin berubah. Semua orang berhak untuk mendapatkan pendidikan! Ya tentu saja termasuk anak-anak dengan autism!

Di Indonesia sendiri, landasan yuridisnya adalah undang-undang dasar 1945 pasal 31, undang-undang no 20 tahun 2003, tentang sistem pendidikan nasional, pasal 3; pasal 5; ayat 1 (setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu), ayat 2 (warga Negara yang mempunyai kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus), ayat 4 (warga Negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus). Jelas dikatakan bahwa semua memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan, tanpa terkecuali.

IMG_0944

Sebelum membahas lebih jauh mengenai lingkungan yang baik untuk anak autisme, kita perlu mengenal dulu apa itu autisme. Anak dengan autisme memiliki keunikan dan kebutuhan yang perlu diperhatikan selama proses belajar mengajar. Autisme sendiri merupakan gangguan perkembangan yang ditandai dengan gangguan dalam berkomunikasi, interaksi sosial, dan perilaku yang strereotype. Anak-anak dengan autism biasanya kesulitan untuk memahami bacaan panjang atau bahasa yang kompleks. Selain itu juga mereka kesulitan dalam memahami gesture tubuh, sehingga mereka seringkali terlihat “kurang peka” dan kesulitan mempertahankan komunikasi. Ditambah, anak dengan autisme juga disertai dengan gangguan sensori, yang biasanya dibagi menjadi 2 yaitu hiposensitif atau hipersensitif. Hipersensitif artinya anak dengan autism memiliki indera yang sangat peka terhadap lingkungannya seperti sinar matahari, atau suara-suara bising. Sebaliknya hiposensitif yaitu anak dengan dengan autism sensorinya kurang peka dibandingkan orang pada umumnya sehingga mereka kesulitan merasakan sesuatu. Tapi bagaimana kalau kita tidak hanya fokus pada kekurangan yang sudah saya sebutkan di atas, tapi lebih fokus pada potensi dan kemampuan yang mereka punya. Karena banyak anak dengan autism yang memiliki kemampuan yang sangat baik! Untuk itu perlu menciptakan lingkungan yang mendukung untuk anak dengan autisme, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Dalam bukunya psikologi dan pendidikan anak berkebutuhan khusus oleh Frieda Mangunsong, menjelaskan bahwa menurut Kluth (2004), terdapat beberapa masukan dalam mendesain kelas bagi siswa ASD berdasarkan pengalaman individu ASD sendiri. Saran mereka antara lain dalam hal:

  1. Pencahayaan

Pencahayaan dalam kelas seringkali menjadi masalah bagi siswa autisme. Apabila hal ini terjadi, guru perlu bereksperimen dengan berbagai cara menggunakan lampu (Attwood, 1998; Gillingham, 1995; Kinney & Fischer, 2001; Williams, 1996 dalam Kluth, 2004). Guru dapat menggunakan lampu yang kurang terang di dalam kelas atau menyalakan lampu bagian depan dan mematikan lampu di bagian belakang.  Hal ini penting untuk diperhatikan dalam menghindari anak-anak yang memiliki masalah sensori. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa anak-anak yang hipersensori akan menangkap sinar atau lampu yang terlalu terang sebagai hal yang menyakitkan dan membuat anak tidak nyaman.

2. Sound

Guru dapat memindahkan siswa yang bermasalah dengan suara ke tempat yang jauh dari suara, menggunakan suara lembut jika memungkinkan, dan memperbolehkan siswa menggunakan headphones atau earplugs pada saat-saat tertentu atau di tempat-tempat tertentu. Bagi anak-anak yang memiliki masalah sensori, suara berisik di kelas menjadi sesuatu yang mengganggu proses belajar.

3. Safe space

Banyak individu dengan autisme mengatakan bahwa mereka membutuhkan ketenangan sejenak di sebuah tempat pribadi. Guru bisa membuat area yang tenang untuk belajar maupun relaksasi bagi siswa-siswa yang terlihat membutuhkan waktu menyendiri sejenak (Heeden, Ayres, Meyer, & Waite, 1996 dalam Kluth, 2004). Mungkin beberapa bangku dapat diatur di bagian belakang kelas untuk siswa yang membutuhkan istirahat sejenak. Ruangan kosong bisa digunakan sebagai quiet room ketika anak-anak membutuhkan waktu time out ketika belajar.

IMG-20170720-WA0012

Anak dengan gangguan autisme biasanya juga kurang peka akan bahaya, sehingga segala kemungkinan potensi lingkungan yang bisa membahayakan diri dan orang lain perlu diperhatikan secara seksama. Sebagai contoh meminimalisir adanya benda tajam atau benda pecah belah berada di ruangan kelas. Menghindari bagian ruangan yang berpotensi bahaya seperti tangga curam atau balkon terbuka. Termasuk dekor ruangan dan penempatan sarana prasarana kelas perlu dipikirkan dengan baik.

Tapi tidak cukup hanya dengan memodifikasi lingkungan. Untuk mengembangkan kemampuan anak secara maksimal membutuhkan banyak pihak. Tidak hanya ruangan, tapi kemampuan staf dan pendidik juga perlu ditingkatkan menjadi lebih baik. Penerimaan dosen/guru terhadap anak-anak, metode mengajar yang kreatif, keterbukaan untuk belajar dan bekerja sama dengan berbagai disiplin ilmu juga perlu dikembangkan untuk memaksimalkan potensi setiap anak dalam proses belajar mengajar. (Prischa Nova, M. Psi., Psikolog)