Permasalahan Pubertas Remaja ABK Dalam Menghadapi Lawan Jenis

London School Centre for Autism Awareness (LSCAA) kembali mengadakan acara Parents Sibling pada sabtu, 30 agustus 2015. Acara tersebut berbagi cerita dan pengalaman para orangtua dan pemerhati anak-anak berkebutuhan khusus selain itu juga mereka berdiskusi dengan DR. Andriana S. Ginanjar Ms. Dmkn sebagai pembicara untuk parents sibling kali ini. Acara yang diadakan di kampus B – LSPR ini mengangkat tema “Permasalahan Pubertas Remaja ABK Dalam Menghadapi Lawan Jenis”.

Beberapa peserta berbagi cerita mengenai anak mereka yang menginjak remaja dan mulai mengalami masa pubertas. Sebagian dari cerita dan pengalaman beberapa peserta, anak-anak mereka terlalu mengekspos masa pubertasnya. Ada yang memberanikan diri saat ia jatuh cinta langsung mengatakan kepada lawan jenisnya dan menghubungi setiap saat, adapula anak yang suka melihat dada wanita, dan ada juga anak yang keluar kamar mandi dalam keadaan tidak mengenakan baju. Padahal orangtua mereka sudah memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada anak-anaknya tentang masa-masa pubertas.

Dr. Andriana menyampaikan kalau tentang suka kepada lawan jenis ataupun seksual anak-anak berkebutuhan lebih terbuka dan berani mengekspos dirinya dibanding dengan anak normal yang lebih sering cerita ke temannya. ABK mepunyai struktur otak yang berbeda sehingga memandang dunia juga berbeda ketika pubertas juga berbeda dengan yang lain. Tetapi baik ABK maupun anak-anak normal mempunyai kesamaan secara biologis organ reproduksinya juga sudah berbeda dan adanya dorongan seksual. Tidak boleh terlalu terpapar karena akan lebih tinggi dan kalau terlalu ditutup juga akan muncul. Apalagi pada anak laki-laki secara hormone lebih tinggi, laki-laki lebih cepat terangsang secara visual apa yang dilihat itu lebih mudah. Sedangkan perempuan lebih romantis ketika melihat melalui matanya. Kalau anak laki-laki secara biologi ketika melihat sesuatu yang membuat dia senang maka dia akan menyukainya. Anak-anak sebelum pubertas mulai diajarakan berbagai aturan seperti setelah makan harus mencuci tangan, setelah mandi untuk menggunakan pakaian di dalam kamar mandi, diajarkan untuk mengatur pakaian dirumah dan di luar berbeda.

Saat anak sudah mulai besar ataupun mulai suka dengan lawan jenis diajarkan sejak awal seperti ketika sudah besar anak harus tidur sendiri maka tanpa disadari memunculkan stimulus-stimulus yang semakin besar. Orangtua khususnya ibu lebih proper menyesuaikan tidak boleh terlalu terbuka dihadapan anak dan untuk mengurangi pelukan-pelukan karena ABK dapat merasakan sentuhan-sentuhan yang dapat merangsang mereka. Kalau mandi jangan dimandikan apalagi oleh babysister perempuan. Untuk ABK perempuan orangtua juga mempersiapkan ketika mereka menstruasi sambil membatasi untuk semua orang dekatnya yang biasa mencium dan memeluk ketika bertemu, orangtua memberitahu ketika ketemu orang hanya boleh bersalaman saja. Orangtua harus memberitahu berkali-kali kepada anaknya, karena ABK dalam dorongan seksual lebih besar dibanding dengan rasionalnya. Aturan-aturan dalam mempersiapkan masa pubertas dan jatuh cinta oleh ABK harus dipersiapkan mulai dari sebelum umur 10 tahun.

Ketika anak berkebutuhan khusus mulai merasakan rasa jatuh cinta dan menembak/mengatakan cinta, sebagai orangtua juga harus memberikan penjelasan tentang tahapan dalam menembak seseorang untuk menjadi pacarnya. Ibu menjelaskan kepada anaknya misal ketika mengatakan cinta tetapi dari lawan jenis belum membalas jawabannya berarti kalian belum bisa disebut pacaran. Orangtua juga harus menjelaskan do and don’t, selalu mengingatkan, dan tegas kepada anaknya. Dalam menjelaskan mengenai masalah pubertas dan seksual kepada anaknya disesuaikan dengan jenis kelamin anaknya missal jika mempunyai anak abk laki-laki diharapkan yang menjelaskan hal tersebut adalah ayahnya, dan sebaliknya untuk anak abk wanita yang menjelaskan adalah ibunya. Orangtua harus menemani anaknya ketika melihat pornografi diharuskan warna hitam putih, orangtua harus menjelaskan dan memilih adegan yang pantes untuk dilihatkan sesuai dengan umur anaknya.

Walaupun kadang menghadapi masalah ketika anaknya ingin mengetahui lebih tetapi orangtua harus tetap menahannya. Dr. Andriana menjelaskan pada usia tertentu akan menurun untuk keingin tahu mengenai seksual tetapi dapat diprediksi usia berapa akan menurun. Dengan mempunyai seorang anak berkebutuhan khusus, kesulitan yang dihadapi orangtua menangani anaknya yang berkebutuhan khusus tidak sebanding dengan kesulitan yang dihadapi anak berkebutuhan khusus kepada lingkungan. Anak berkebutuhan khusus harus berjuang seperti bersosialisasi dengan teman-temannya agar tidak dijauhi dan mendapatkan teman banyak.