Imlek Bagian dari Keberagaman Indonesia

Imlek atau yang lebih kita kenal dengan ‘Xincia’ adalah salah satu hari besar dan perayaan penting masyarakat Tionghua. Meriahnya suasana Imlek terlihat dengan maraknya hiasan dan ornamen Imlek di pusat perbelanjaan dan restoran, penjualan pernak-pernik khas Imlek, pertunjukkan barongsai, dan juga pemberitaan persiapan Imlek yang dilakukan oleh para selebriti atau figur publik lainnya. Imlek juga identik dengan warna merah, emas, dan juga sesuatu yang baru yang dipersiapkan dalam rangka merayakan hari Imlek. Misalnya saja, pakaian baru, rambut baru, hingga dekorasi rumah yang baru.

Lalu apakah hal tersebut merupakan makna sesungguhnya dari Imlek? Tentu tidak. Makna yang sesungguhnya dari Imlek adalah kebersamaan dan ungkapan rasa syukur. Hal ini tergambar dari beberapa kegiatan yang dilakukan sepanjang Imlek, seperti berkumpul bersama keluarga untuk makan bersama dan juga berbagi angpao.

Jika ditarik lebih kompleks lagi, kebersamaan dan ungkapan rasa syukur ini tidak hanya dapat dilakukan bersama keluarga saja. Karena kebersamaan bukan hanya sebatas menjalin kedekatan fisik, tetapi juga kedekatan jasmani dan rohani dalam keberagamaan. Seperti semboyan kita, Bhineka Tunggal Ika, yang mana dapat diartikan walaupun berbeda dalam hal etnis ataupun keyakinan, tetapi tetap dalam satu kesatuan yaitu Bangsa Indonesia.

Perayaan Imlek yang hampir dirayakan oleh seluruh negara juga disesuaikan dan beradaptasi denngan budaya setempat. Misalnya saja Indonesia, dengan menu makanan Lontong Cap Go Meh, makanan yang disajikan pada hari ke-15 saat perayaan Imlek. Padahal, lontong bukanlah makanan Cina, tetapi jenis makanan Indonesia. Hal ini menyatakan bahwa telah terjadi komunikasi budaya antara Indonesia dan Cina. Menariknya lagi, hal ini diterima dengan baik oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Pengakuan akan hari raya Imlek tentunya tidak lepas dari peran Alm. Presiden Abdurrahman Wahid, atau yang akrab kita sapa dengan Gus Dur. Sebagai Bapak Pluralisme, ini merupakan salah satu wujud dari semangat kebersamaan dalam keberagaman dan kebangsaan Indonesia. Dengan dijadikan sebagai hari libur nasional, perayaan Imlek juga memperkaya ragam budaya Indonesia. Karena bagaimanapun juga masyarakat keturunan Tionghua merupakan bagian dari masyarakat Indonesia.

Sebenarnya, terlepas dari segala meriah dan megahnya perayaan Imlek yang dilakukan, Imlek merupakan salah satu budaya Indonesia. Ia bukanlah pembeda melainkan salah satu alat pemersatu bangsa, seperti halnya dengan budaya yang lainnya. Kita perlu untuk bersyukur karena negara kita dikarunai dengan beragam keindahan akan etnis dan budaya. Kita, sebagai anak muda, penerus generasi bangsa, sudah sepantasnya untuk menjaga keindahan dan keberagaman tersebut. Dengan demikian, kita dapat hidup berdampingan dalam damai dan juga melihat setiap perbedaan yang ada sebagai salah satu warna baru yang menjadikan Indonesia lebih indah dan beragam lagi.

Strength lies in differences, not in similarities – Stephen R. Covey.
Happy Chinese New Year!

Share This: